SBY: Dana Bangun Papua Tertinggi di Indonesia

Angka kemiskinan di Papua juga tergolong tertinggi di Indonesia.


Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memerintahkan perlunya dilakukan audit atas penggunaan anggaran negara dalam pembangunan daerah otonomi khusus di Pulau Papua. Ini diperlukan lantaran seolah-olah tidak ada perubahan dan kemajuan di dua propinsi di Papua.

“Banyak sekali surat masuk kepada saya, bahkan seolah-olah Jakarta lalai dan kurang dana,” kata SBY di Istana Presiden, Jakarta, Kamis, 29 Juli 2010.

Padahal, dia mengingatkan biaya pembangunan per kapita dari 33 propinsi yang tertinggi adalah untuk dua propinsi di Papua, yakni Papua dan Papua Barat. Setelah itu, baru Aceh dan diikuti propinsi lainnya.

Karena itu, SBY heran mengapa belum ada kemajuan di Papua. “Audit harus dilakukan. Bagian mana yang tidak pas, manajemen, anggarannya, pengawasan atau efisiensinya?”

Menurut dia, sejak 2005, pemerintah pusat sudah mengubah kebijakan dasar terhadap Papua. Kebijakan yang semula dengan pendekatan keamanan diubah menjadi pendekatan kesejahteraan. Penegakan hukum mengiringi penegakan kesejahtaraan sejalan dengan meangalirnya dana-dana pembangunan termasuk dana otonomi khusus.

“Jadi, sudah saatnya kita melihat utuh,” kata dia. Dia menekankan jangan sampai kemudian timbul sikap saling menyalahkan, serta Indonesia menjadi bulan-bulanan LSM baik dari dalam dan luar negeri.

Di tempat terpisah, Menko Perekonomian Hatta Rajasa juga heran dengan Indeks Pembangunan Manusia di Papua yang sampai saat ini masih saja rendah, meski pemerintah telah mengalokasikan dana hingga puluhan triliun untuk dua provinsi di Timur Indonesia tersebut. Apalagi, jumlah yang disalurkan ke Papua adalah tertinggi secara per kapita.

“Seharusnya dana-dana itu cukup,” kata Menko Perekonomian Hatta Rajasa di kantornya, Jalan Wahidin, Jakarta, Kamis, 29 Juli 2010.

Indeks Pembangunan Manusia merupakan salah satu indikator yang sering digunakan untuk mengukur kemajuan suatu bangsa. Dengan indeks tersebut, dapat diketahui masyarakat masih terbelakang, miskin atau sudah maju.

Data Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) mengungkapkan Papua selama ini memperoleh dana dari pemerintah pusat dala bentuk dana alokasi khusus (DAK), Dana Alokasi Umum (DAU), Dana Otonomi Khusus, dan Dana Inpres Nomor 5 Tahun 2007 tentang percepatan Pembangunan Papua dan Papua Barat.

Setiap tahun pemerintah mengganggarkan dana Otsus yang nilainya terus meningkat. Tahun ini dana Otsus Papua dianggarkan sebesar Rp13,86 triliun atau lebih tinggi dibandingkan 2008 sebesar Rp12,92 triliun. Sementara dana Inpres tahun ini dialokasikan sebesar Rp8,5 triliun.

Hal berbeda dialami di Papua Barat. Dana Otsus Papua Barat tahun ini dialokasikan sebesar Rp4,2 triliun sedangkan 2009 sebesar Rp4,3 triliun. Sedangkan alokasi dana Inpres tahun ini sebesar Rp5,8 trliun.

Hatta mengatakan melihat kondisi demikian, pemerintah mengaku bakal mengevaluasi terhadap Inpres tersebut. Dalam Inpres tersebut pemerintah menekakan pada 5 fokus pengembangan yaitu masalah ketersediaan pangan, pendidikan, kesehatan, infrastruktur, dan keberpihakan pada putra/putri Papua di berbagai aspek.

“Kalau ada keluhan tentu harus cek, apakah dana tepat sasaran ke situ, atau apakah lebih banyak services atau pembangunan,” ujar Hatta.

Pembangunan Papua mendapat sorotan tajam menyusul terus bergolaknya situasi di pulau besar tersebut. Warga Papua juga masih jauh tertinggal dari propinsi lainnya. Bahkan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik, angka kemiskinan di Papua juga tergolong tertinggi di Indonesia. Menurut BPS, jumlah penduduk miskin di Papua malah naik dari 37,08 persen pada Maret 2008 menjadi 37,53 persen pada Maret 2009.

~ oleh TOMMY UTAMA SH pada 29/07/2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: