Jangan Jadi Bangsa Pemalas

PERINGATAN yang disampaikan Presiden berkaitan dengan terlalu lamanya libur Bursa Efek Indonesia tepat untuk disampaikan. Apabila kita ingin sejajar dengan masyarakat dunia, maka standar kerja yang harus kita lakukan harus sama dengan standar internasional.

Selama ini kita terlalu terlena dengan sikap kerja yang santai. Hari libur kita cenderung lebih lama dibandingkan dengan negara-negara lain. Untuk libur Idul Fitri, lantai bursa bisa libur sampai tujuh hari. Ini yang membuat Presiden bertanya-tanya, apakah libur selama itu tidak akan mengganggu perekonomian nasional.

Di tengah dunia yang berlari kencang, libur yang begitu lama tentunya membuat kita kehilangan banyak kesempatan. Di tengah antusiasme yang besar dari para pemilik modal dunia untuk masuk ke pasar modal Indonesia, tentunya libur panjang membuat para investor pasti terheran-heran.

Kita memang selalu cepat untuk menyesuaikan dengan gaya negara-negara yang maju. Ketika orang lain bekerja hanya lima hari kerja setiap minggu, kita cepat mengubah hari kerja dari enam hari menjadi lima hari. Ketika ada hari terjepit di antara dua hari libur, kita memerpanjang menjadi libur resmi dengan alasan daripada karyawan juga bolos bekerja.

Seringkali kita tidak memahami konteks bangsa lain menerapkan pola seperti itu. Bahkan yang mengkhawatirkan, kita tidak mau mengerti bagaimana bangsa lain itu efektif dalam menggunakan waktu kerja dengan orientasi hasil kerja yang juga jelas.

Padahal sebagai bangsa yang tertinggal start-nya dibandingkan negara maju, kita harus bekerja jauh lebih keras dari mereka. Ibaratnya kalau perlu kita tidak boleh libur agar bisa menyamai kemajuan bangsa-bangsa lain.

Itulah yang dilakukan bangsa Korea dan juga China. Mereka mengejar ketertinggalan dari bangsa lain dengan bekerja keras. Mereka membangun etos kerja yang tinggi agar bisa sejajar dengan bangsa-bangsa lain.

Sering kita mengingatkan bahwa konsumtivisme dan konsumerisme yang menjadi gaya hidup bangsa modern tidak terjadi dengan sendirinya. Pada bangsa lain, mereka menikmati itu setelah melalui proses panjang bekerja. Mereka melewati masa revolusi hijau dan kemudian revolusi industri yang menghasilkan etos kerja dan disiplin, sehingga membuat mereka bisa menghasilkan sebuah produk. Bahkan produk itu dikembangkan menjadi produk-produk yang lebih maju dan canggih. Baru kemudian mereka menikmati hasil kerja itu.

Kita belum pernah melewati revolusi-revolusi yang menghasilkan etos kerja yang tinggi. Sebagai bangsa kita belum menghasilkan sebuah produk industri yang menjadi kebutuhan masyarakat dunia. Lalu tiba-tiba kita ingin menikmati konsumtivisme dan konsumerisme.

Perubahan orientasi harus kita lakukan. Kita tidak boleh terlena menjadi bangsa yang santai. Kita harus memacu diri kita untuk menjadi bangsa yang dikatakan Samuel L. Huntington sebagai bangsa dengan kultur kerja yang kuat.

Presidenlah yang harus mendorong perubahan oreintasi itu. Dengan contoh yang nyata, Presiden harus mengedukasi warga bangsa ini untuk menjadi bangsa yang tangguh dan tidak cengeng. Presiden harus mengajarkan bagaimana kerja keras dan kerja cerdas itu harus dilaksanakan.

Kemajuan yang diraih bangsa lain didapat dari hasil pendidikan panjang yang dilakukan para pemimpinnya. Singapura menjadi bangsa dengan disiplin tinggi setelah ditempa secara terus menerus oleh Lee Kuan Yew. Korea Selatan menjadi bangsa yang tangguh karena dorongan Presiden Park Chung-hee.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memiliki momentum baik untuk memulai pembangunan karakter bangsa setelah menghardik kesadaran pelaku pasar modal. Langkah itu harus dilanjutkan dan tidak cukup hanya sekali menyampaikan di Sidang Kabinet Paripurna.

Banyak kesempatan yang dimiliki Presiden untuk mengingatkan tugas besar yang harus kita lakukan sebagai bangsa. Seperti halnya tambur, harus dipukul bertalu-talu agar terus berbunyi dan didengar banyak orang.

Selanjutnya, bagaimana membuat ajakan untuk bekerja keras itu menjadi sesuatu yang melekat pada diri setiap warga. Karena ini mengubah sikap dan perilaku, Presiden tidak boleh bosan untuk terus mengingatkan kita semua untuk tidak menjadi bangsa pemalas.

~ oleh TOMMY UTAMA SH pada 15/09/2010.

Satu Tanggapan to “Jangan Jadi Bangsa Pemalas”

  1. Apalagi kalau Presidennya bisa menjabat lima periode, sepertinya akan sangat manstrabbb…..😆

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: