Mengatasi kekerasan berkedok agama

KONSEKUENSI capaian demokrasi pasca 1998, ternyata juga melahirkan berbagai organisasi massa. Semula, kehadiran mereka biasa-biasa saja. Namun dalam perjalanannya, ormas-ormas, khususnya yang berbendera agama, kerap kali melakukan tindakan yang meresahkan sebagian warga masyarakat. Bahkan di tahun-tahun terakhir ini tindakan itu merambah ke berbagai aspek kehidupan. Tak hanya merusak tempat hiburan, menyegel tempat ibadah, membubarkan sosialisasi kesehatan, tapi juga menteror acara diskusi buku yang notabene adalah kegiatan ilmiah, sebagaimana dilakukan FPI (Front Pembela Islam) yang kemudian menghadirkan tarik ulur ketegasan penyikapan hukum terhadap kekerasan berkedok agama.

Setelah mengalami penindakan tegas dari aparat hukum pada tahun 2008 terkait dengan insiden Monas, FPI kembali beraksi di tahun 2010. Mereka menyerang Seminar Waria di Depok pada tanggal 30 April 2010. Pada tanggal 25 Mei 2010, FPI membongkar patung tiga mojang di Bekasi secara paksa dan tiga hari kemudian bersamaan dengan perayaan Waisak dan Sholat Jumat, FPI membongkar patung naga di kota Singkawang secara paksa. Lalu aksinya yang terakhir di Banyuwangi akhir Juni lalu disusul dengan menteror diskusi buku di Jogja,  memicu perdebatan di tingkat nasional. Bahkan beberapa kalangan mendesak pemerintah untuk membubarkan FPI sebagaimana disuarakan oleh Fraksi PDIP, Komas HAM dan LSM yang bergerak di bidang HAM>

Ketika didesak untuk dibubarkan, FPI mengelak dari tanggungjawab, sebagaimana diberitakan lewat berbagai media baik televisi maupun media on line. Dalam pembelaannya. FPI menyatakan tidak bertanggungjawab atas intimidasi dan kekerasan yang terjadi. Mereka juga menyatakan bahwa perilaku kekerasan dilakukan oleh  oknum dan bukan bagian dari FPI. Peristiwa itu terjadi akibat provokasi dari persengkongkolan yang mereka sebut oknum-oknum SEPILIS (Sekularis, Pluralis dan Liberal).

Anti Pluralisme
Rentetan kejadian dengan kekerasan berkedok agama ini menandakan ancaman terhadap nilai-nilai demokrasi dan pluralisme yang selama ini menjadi fondasi dasar bangsa. FPI dalam konferensi persnya bersama Forum Umat Islam dengan terbuka menyatakan berseberangan dan anti pluralisme. Hal ini sungguh berbahaya untuk perkembangan mentalitas bangsa Indonesia di masa mendatang. Pernyataan menentang keberagaman yang menjadi dasar pembentukan negara dan bangsa dalam sejarahnya selama ini, merupakan provokasi langsung untuk konflik horizontal antar warga negara.

Yang amat disayangkan lagi-lagi dalam peristiwa kekerasan berkedok agama, aparat penegak hukum seolah cenderung melakukan pembiaran. Faktanya, setelah berbagai peristiwa kekerasan itu terjadi dan dilaporkan secara resmi, kelanjutannya tetap saja tak jelas. Sangatlah ironis ketika nilai-nilai keagamaan disalahgunakan untuk membenarkan aksi-aksi sepihak dari FPI.

Gus Dur pernah mengatakan bahwa “Tuhan tidak perlu dibela. Pembelaan agama yang dilakukan FPI sarat dengan kekerasan.” Dalam website resmi mereka, imaji yang tampil adalah imaji yang penuh rasa marah, menampilkan kegarangan dan pernyataan-pernyataan penuh kebencian. Inikah wajah agama yang ingin mereka sajikan dan ingin mereka seragamkan dengan paksa bagi semua orang?

Salah satu hal yang juga sedang gencar didengungkan oleh FPI dan ormas-ormas yang satu haluan adalah penerapan hukum syariat. Apakah hal ini kemudian menjadi solusi atas kemandekan hukum yang berlangsung di negeri ini? Insiden awal tahun ini di Banda Aceh, menjawab pertanyaan tersebut. Kasus perkosaan dilakukan oleh 3 polisi syariah terhadap seorang mahasiswi karena dianggap melanggar salah satu hukum syariah, menegaskan bahwa hal ini bukan sebuah solusi.

Bagi penduduk Aceh sendiri, mereka menganggap penerapan perda syariat tersebut adalah kepentingan politik pemerintah pusat terhadap kontrol kekuasaan di Aceh. Razia jilbab yang marak dilakukan oleh polisi syariah di Banda Aceh menuai protes, di kalangan perempuan Aceh pun muncul ketakutan ketika mereka kemudian akan diamankan jika melanggar hukum tersebut.

Makna “diamankan” disini menjadi semakin menakutkan dengan adanya insiden pemerkosaan yang dilakukan oleh polisi syariah di awal tahun ini. Pemakaian jilbab bukan lagi sebagai pilihan atau panggilan hati nurani, namun sebuah paksaan.

Ragu-ragu
Pada praktiknya kebanyakan penerapan perda syariah di beberapa daerah semakin menuai kontroversi, apalagi ketika mereka yang diberikan wewenang menyalahgunakan kuasa yang diberikan. Ketika dalam kehidupan riil bermasyarakat mentalitas yang adil, bijak dan plural diabaikan, apapun solusi yang diajukan hanya akan menuai kegagalan yang lebih besar. Bahkan mengancam disintegrasi bangsa jika berlangsung terus menerus.

Dalam berbagai kesempatan, ketika tindak kekerasan berkedok agama terjadi, aparat penegak hukum seharusnya dapat mencegah dan menentramkan keresahan yang terjadi di masyarakat luas. Namun pada kenyataanya para penegak hukum kita bersikap ragu. Bahkan terkesan  membiarkan, bahkan lepas tangan ketika mereka sudah mendapatkan informasi sebelumnya.

Dalam kasus pembubaran diskusi sastra di Yogyakarta, aparat seolah berpihak kepada mereka. Kehadiran mereka malah untuk memastikan bahwa acara tersebut gagal dilaksanakan dengan dalih keamanan. Sama sekali tidak ada tawaran penjagaan acara muncul dari pihak kepolisian dari pihak-pihak yang mengancam.

Keberpihakan terhadap kepentingan rakyat dan masa depan bangsa sama sekali tidak dijadikan pertimbangan. Dalam banyak kasus kepolisian bertindak ketika segalanya sudah terlambat dan peristiwa kekerasan memakan korban. Atau disebabkan oleh tekanan politik tertentu atau kepentingan tertentu yang membuat mereka bergerak.

Kemandulan penegak hukum menandakan peran negara yang minim dalam membela warga negaranya dan menciptakan rasa aman dalam kehidupan bernegara. Konflik-konflik ini akan kian meruncing jika negara dan penegak hukum tidak segera bertindak dan membiarkan berbagai kalangan bertikai dan main hakim sendiri.

Pengatasnamaan agama oleh berbagai ormas menjadikan pihak penegak hukum dan negara tidak bertindak tegas dengan dalih takut memancing di air keruh dan enggan ikut campur. Pembiaran-pembiaran yang marak terjadi dan keragu-raguan untuk bertindak inilah yang mencemaskan. Seolah-olah pola kekerasan mengatasnamakan agama menjadi pembenaran tersendiri atas versi kebenaran yang mereka anut.

Tindak kekerasan semena-mena itu bukan serta merta tidak memancing reaksi. Beberapa perlawanan mulai muncul, seperti yang terjadi di kota Singkawang pasca penghancuran patung naga. Yang ditakutkan adalah timbulnya reaksi kekerasan dari kalangan yang terdesak. Sampai tulisan ini diselesaikan, kabar para penganut Ahmadiyah di Manis Lor, Kuningan tengah menuai konflik kekerasan yang baru. Jika negara dan penegak hukum gagal bertindak, tak pelak, apa yang diperjuangkan sejak awal berdirinya negara ini akan hancur berkeping-keping.

Pada akhirnya, kita sangat berharap terhadap tindakan tegas aparat penegak hukum. Siapa pun yang melanggar seharusnya ditindak dengan tegas dan menerima hukuman setimpal, sesuai undang-undang yang berlaku sehingga seluruh warga negeri ini bebas dari ketakutan, terror dan tindak kekerasan.

~ oleh TOMMY UTAMA SH pada 16/02/2011.

Satu Tanggapan to “Mengatasi kekerasan berkedok agama”

  1. sebenarnya tindakan ormas-ormas yang anda “judge” sebagai pelaku kekerasan adalah reksi dari ketumpulan penegakan hukum, bagaimana bisa penodaan terhadap agama yg tidak sesuai dengan PP no 1 tahun 65 dibiarkan bahkan dibela, hal inilah yg menjadi pemicu terjadinya konflik horisontal di masyakarakat, bodohnya lagi beberapa pihak justru sibuk menyalahkan reaksi tersebut, daripada menyelesaikan akar permasalahan yg ada….media terlalu lebay dalam peliputan yg hanya memikirkan berita bombastis dan komersil, bahkan setiap ada dialog pihak yg dianggap pelaku aksi kekerasan tak pernah diberikan KESEMPATAN menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: