SAAT NYA MENGKRITIK MEDIA ELEKTRONIK

akhir-akhir ini  masyarakat indonesia sering di arah kan ke isu-isu politik yang hanya menyedot energi rakyat kepada hal-hal yg sangat tidak penting, dari semua pemberitaan yg saya nilai dan saya amati memang telah terjadi pemberitaan yg tidak independent oleh beberapa media elektronik, saya sadar kalau sekarang zaman nya demokrasi dan menjunjung tinggi kebebasan pers, akan tetapi saya melihat sebagai warga indonesia yg selalu ingin maju ke depan. terdapat pihak-pihak tertentu yang ingin mnghipnotis rakyat indonesia dg isu-isu politik yg tidak fair.

seperti beberapa media elektronik selalu menayangkan kegagalan pemerintah dalam berbagai bidang, padahal saya melihat tidak semua program pemerintah gagal, seharus nya media tersebut juga memeberitakan keberhasilan pemerintah agar tercipta nya pemberitaan yang berimbang dan tidak menjurus kepada penghasutan terhadap rakyat indonesia.

dari beberapa media elektronik yg saya lihat ada dua media yang di miliki oleh politikus yang lagi ngotot-ngotot nya jadi ”RI 1”  saya melihat ada nya intrik politik tertentu di belakang pemberitaan beberapa media tersebut,karena saya melihat meraka telah menggunakan media yg mereka miliki untuk selalu menyalahkan pemerintah dalam berbagai bidang.dan hal itu malah akan memperlambat program pemerintah.

menurut saya seharus nya kalau memang mereka rakyat indonesia yang mengingin kan kemajuan bangsa indonesia , harus nya memberikan berita-berita yang berimbang atau dg kata lain tidak timpang dalam pemberitaan. yang terjadi malah sebalik nya mereka menayangkan berita yg selalu menyalah kan pemerintah.

kalau seandai nya salah satu dari pemilik media kritis tersebut terpilih jadi presiden di 2014 , saya ingin menanyakan .. ” apakah media tersebut akan tetap kritis seperti sekarang”   ya dapat saya pastikan dari penilaian saya terhadap etika dan moral semua itu tidak akan terjadi,karena mereka tentunya tidak ingin memberikan berita yg menyudut kan pimpinan mereka (pimpinan media)

saya sudah sangat kecewa dg pemberitaan beberapa media tsb,karena saya nilai sangat tidak independent memberikan berita kepada masyarakat indonesia. saya saran kan kepada beberapa media tsb untuk kembali menjadi manusia yg ber etika dan ber moral, untuk kemajuan bangsa indoinesia ke depan,jangan kita mengajar kan rakyat kita kebencian, kita harus memberikan hal-hal positif kepada rakyat, agar rakyat indonesia tidak terpancing dg hal-hal negatif dan buruk…

ini semua saya tuliskan karena saya merasa kecewa dg beberapa media elektronik yang tidak independent dan selalu menyalah kan orang,semoga yg saya tuliskan ini memberikan hal positif kepada rakyat indonesia yg saya cintai.

wasslam : TOMMY UTAMA SH

~ oleh TOMMY UTAMA SH pada 10/03/2011.

2 Tanggapan to “SAAT NYA MENGKRITIK MEDIA ELEKTRONIK”

  1. PKB bagus. Gerindra boleh juga. Hanura bagus juga. PKS bagus pula. PD buruk karena kepemimpinannya tidak jelas, rakyat semakin sengsara. TV-TV berita yang ada oportunis. Tak sepenuhnya perang juga, anda bolehs etuju dan boleh tidak, tapi hanya untuk bersaing memenangkan lebih banyak iklan mengeruk untung sebsar-besarnya, melalui permainan perasaan rakyat, agar kupa lapar, serta semakin bodoh dan tolol. Pemanang itu adalah bangsa “kulit putih”. Semua telah dikuasasi mereka sejak lama. Maka pejabat-pejabat hanya mainan mereka, KKN mereka, inilah yang berujung pada mafia kekuasaan. Belanda dulu pun memanfaatkan “kulit putih” negeri ini. Tapi di zaman Wiranto dan Prabowo masih aktif, “etnis putih” dijarah dan dibakar dimana-maa, dan di bawah SBY etnis ulet tapi mayoritas mereka curang dan licik dalam permainan hidup ini, kini aman karena SBY. TV-TV itu pun milik mereka. TV-TV itu seolah-olah membela rakyat dan hendak mengajak menjatuhkan rezim saat ini, pemerintah SBY, tapi ternyata tidak juga. Jadi tv-tv itu tidak jelas membela kejuangan rakyat tetapi cari untung belaka. Maklum di balik itu adalah orang “kulit putih”, dengan kuli-kuli kaum intelektual kita yang susah hidup dan akhirnya terbeli dengan beberapa juta rupiah, dan tidak punya nyali dalam mengungkap kebenaran, malas, dan tidak jelas. Kalau kebakaran tangki Pertamina Cilacap jelas bukan pengalihan isu, tapi kecerobohan. Tapi kalau berbagai berita mulai sidang pengadilan fitnah teroris terhadap tersangka teroris ustaz Abu Bakar Ba’asyir, bom-bom buku, perebutan ketua PSSI yang dibesar-besarkan, hingga tersangka penipu Selli dan tersangka karyawati korup Citibank, Melinda, juga bukan hanya pengalihan isu, tetapi dimanfaatkan untuk sebesar-besarnya mengalihkan banyak isu. Utamanya soal skandal bank century, yang sebagian uangnya digunakan jelas untuk pemenangan SBY pada pemilu 2009. Tujuannya agar perhatian masyarakat tidak terpaku pada masalah-masalah yang tidak dilaksanakan pemerintah dalam membangun bangsa, dan agar dua media besar negeri ini, MetroTv adn TVOne, utamanya, sibuk memberitakan tetek-bengek itu. Sebab Indonesia diperkirakan akan mengalami seperti Tunisia, Mesir dan Libia, karena tidak mampu menciptakan harga-harga murah dan lapangan kerja buat rakyat. Juga isu santer bahwa SBY mungkin tidak bisa bertahan hingga 2014. Pola-pola seperti ini biasa dilakukan di masa lalu. Satu contoh bahkan di masa Sukarno saja, kelompok musik mengklaim dibayar Sukarno agar mau masuk penjara dengan isu musik ngak-ngik-ngoknya, akibat tekanan publik. Di masa Pak Harto lebih banyak dan lagi kejam. Tak perlu dirinci di sini. SBY juga melakukan hal sama meskipun terlihat seolah-olah tidak kejam terhadap rakyat. Tapi menyengsarakan rakyat banyak apa tidak kejam? Tapi pesaing-pesaing atau komponen-komponen SBY yang kini di luar kekuasaan juga sepertinya pengecut, dan beraninya hanya bicara atau sedikit memprovokasi dan tidak berani bertindak terang dan sistematis melengserkan SBY, meski situasi negeri ini sudah parah begini. Padahal oposisi-oposisi di Tunisia, Mesir dan Libia sangat canggih dalam menggerakkan dan memicu unjuk rasa besar efektif melengserkan. Ini bukan soal 2 tahun, 30 tahun, 40 tahun orang berkuasa, tetapi soal rakyat yang semakin dibuat lapar dan ketidak adilan serta korupsi semakin bebas lepas.

  2. Sejak 1998, sejak kerusuhan dan pelengseran Pak Harto, saya mengikuti semua berita dari parabola. gambar-gambarnya dari TV-TV asing itu tak ada sensor dan hanya yang terlalu berdarah-darah yang dibuat kabur. Berita dari TV-TV Berita asing itu luar biasa dan tidak memihak serta tidak biased seperti TV-TV lokal. Saat ini hanya dengan Rp 3 juta – Rp 4 juta, kita bisa mengikuti revolusi-revolusi dahsyat mulai dari Tunisia, Mesir, Libia, dan Pantai Gading Abidjan. Hebat rakyat-rakyat pemberani itu. Kita bisa mendengar dan memirsa nyata dari French 24, Europe News, DW TV Jerman, CCTV-9 (China), CNA (Singapura), Aljazeera English dan Aljazeera berbahasa Arab (Doha), dan banyal lagi, semua dalam bahasa Inggris sederhana mudah dimengerti, dan ratusan TV-TV hiburan non porno, bebas dari parabola. Janganlah nonton TV-TV Berita lokal yang biased itu, rusak putra-putri Anda terpengaruh opini-opini yang dibuat mereka.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: