SBY, Aburizal Bakrie dan Surya Paloh: Segitiga Tegangan atau Permainan?

Relasi dan rivalitas antara Surya Paloh,Aburizal Bakrie dan SBY memikat perhatian publik. Ada yang menarik jika kita memperhatikan pemberitaan televisi akhir-akhir ini terutama antara dua televisi pemberitaan nasional yaitu Metro TV dan TVone. Dimana dalam saat yang sama terdapat perbedaan tema/isu yg diangkat ke publik oleh kedua stasiun televisi itu.

Setelah surut dari berlomba menyajikan bencana alam Gunung Merapi, isu bergeser ke masalah politik. Kasus Gayus Tambunan muncul kembali ke permukaan.. Pada awalnya saat Gayus tertangkap kamera wartawan sedang menonton pertandingan tenis di Bali, kedua stasiun TV ini terlihat masih berusaha berlomba untuk menyajikannya lebih baik ke publik. Tapi kemudian TVone mulai terlihat sedikit bingung setelah muncul isu pertemuan Gayus dengan Aburizal Bakrie (pemilik group Bakrie dimana TVone bernaung) di Bali. Peluang besar menyiarkan klarifikasi masalah ini disia-siakan, karena sang boss tidak mau secara khusus dan terbuka menyangkal pertemuannya.

Sementara itu Metro TV mulai semakin hot memblow-up kasus ini, terutama saat menyiarkan kesaksian Gayus saat persidangannya dimana dia mengaku diberi uang oleh tiga perusahaan milik group Bakrie. Saat polisi hanya mampu membuktikan bahwa kasus Gayus hanya kasus gratifikasi semata, kekecewaan mengenai hal ini sangat keras disuarakan Metro TV dalam pemberitaan, tajuk atau diskusi. Hal yang sama sedikit sekali dilakukan oleh TVone.

Bersamaan dengan berkembangnya kasus Gayus, konflik pusat-daerah terkait rencana pilkada dalam penangkatan Gubernur DI Yogyakarta juga mulai membesar. Isu yang ditiup langsung oleh Presiden SBY ini juga disajikan dengan cukup signifikan oleh Metro TV, sedangkan TVone yang pada awalnya juga berusaha mengangkat masalah ini, perlahan terlihat mulai mengendur.. Dan saat ini, dimana suara-suara yang menyuarakan kekecewaan terhadap kepolisian dan Presiden SBY semakin kencang terdengar, TVone malah terlihat sangat konsen luar-dalam untuk memberitakan sepak terjang Timnas PSSI di Piala AFF serta berusaha mengangkat berita tertangkapnya tersangka teroris Abu Thalut ke publik yang belakangan muncul di tengah-tengah gemuruh kekecewaan politik itu.

Terlepas dari yang mana dari berita-berita tersebut yang lebih menarik perhatian publik atau lebih menjual atau lebih penting, yang jelas dari kondisi ini makin memperlihatkan pertarungan politik antara Surya Paloh dan Aburuzal Bakrie secara langsung. Dari sini pula bisa kita menebak-nebak dimana posisi SBY kira-kira dalam pertarungan keduanya.

Sandera

Siapa tidak kenal Aburizal Bakrie (ARB)?. Beliau ini adalah bos bakrie group. usahanya ada diberbagai bidang. media, pertambangan, telekomonikasi, dan banyak lagi. terbayang bagaimana kebingungan beliau menghabiskan gelontoran uang tiap harinya. atau sebaiknya tidak dihabiskan, ditabung saja untuk bekal masa tua kelak.

ARB ini sekarang juga bos golkar. Ketua Umum, dan semua orang tau itu. saat pertama kali beliau mencalonkan menjadi ketua umum salah satu partai besar di Indonesia ini, tidak sedikit yang pesimistis akan kemampuan beliau. bahkan, banyak yang mengkait-kaitkan pada kehancuran golkar ke depan, karena dengan terpilihnya ARB ini banyak yg beranggapan sama saja bunuh diri politik yang dilakukan golkar. indikasinya jelas, ketika seorang pemimpin itu butuh pencitraan sebagai bahan bakar mesin politik, maka kehadiran ARB di golkar apalagi sebagai ketua umum sedikit banyak akan mempengaruhi citra partai golkar.

Kasus lumpur lapindo adalah citra buruk bagi ARB. bagaimana tidak, kasus ini membuat masyarakat jawa timur khususnya sidoarjo menderita. banyak industri merugi, masyarakat kehilangan tempat tinggal, anak2 kehilangan sekolah, dan hal merugikan lainnya. sampai saat ini lumpur lapindo belum juga berhenti.

Terlepas dari masalah lapindo tersebut di atas, ada yang menarik apa yang dilakukan ARB belakangan ini. sikap tegasnya belakangan ini sebagai ketua umum salah satu partai besar perlu mendapat apresiasi tersendiri. dan memang sudah seharusnya seperti itulah sikap ketua umum partai, tegas dan berani mengambil keputusan, mungkin beliau belajar dari Jusuf kala.

Kasus bank century yang menyedot perhatian publik beberapa bulan terakhir ini semakin membuat panas peta politik di Indonesia. ada yang menarik manakala golkar bersikap kritis terhadap pemerintahan yang ada sekarang, padahal kita semua tahu, semenjak terpilihnya ARB menjadi ketua umum golkar, beliau menyatakan bahwa golkar adalah mitra pemerintah, sebutlah bagian koalisi dengan presiden terpilih, SBY. adanya koalisi ini awalnya membuat kita berpikir bahwa golkar tidak akan lagi bersikap kritis. apa yang disampaikan oleh presiden tentu akan diamini oleh golkar.

Menariknya, justru beberapa hari ini terjadi perselisihan sengit antara ARB sebagai nakhoda partai golkar dengan SBY dan partai demokrat sebagai pengusung utama koalisi. Adanya indikasi penyimpangan dan kesalahan dalam kasus bank century membuat golkar harus memilih. apakah tetap mengamini setiap apa yang disampaikan oleh mitra koalisinya dalam hal ini presiden SBY atau berani mengungkapkan fakta2 lapangan yang ditemukan selama berjalannya panitia khusus century. dan golkar lebih memilih membuka gamblang adanya penyimpangan dalam kasus bank century.

Merasa terpojok dengan adanya isu pemakzulan, SBY segera mencari celah, mecari cara untuk menekan golkar dan ARB ini. munculah wacana pengemplang pajak. salah satu tertuduhnya ternyata adalah perusahaan-perusahaan ARB. ada yang aneh manakala presiden dalam kasus ini terlihat panik. sampai-sampai kasus pajak yang selama ini tidak pernah mengemuka sekarang terkesan dibuka selebar-lebarnya. memang, setiap pelanggaran hukum termasuk tunggakan pajak sudah seharusnya diusut. tapi masalahnya kenapa baru sekarang wacana itu mengemuka? saat golkar dan ARB terlihat menekan? seakan-akan hal ini sengaja dijadikan alat politik untuk bergaining position dan tawar menawar politik diantara keduanya.

Menyikapi adanya gelagat tidak beres ini, ARB segera menyatakan bahwa golkar tidak ada kaitannya sama sekali dengan kasus tunggakan pajak dan tidak takut terhadap ancaman-ancaman ini. inilah yang perlu diapresiasi dan mendapat simpatik publik. ternyata, beliau masih bisa bicara kebenaran. semoga golkar dan ARB ke depan tetap konsisten dan komit untuk memperjuangkan aspirasi rakyat dan mengusut tuntas segala penyimpangan yang terjadi dalam kasus century ini. begitupun dengan SBY, semoga beliau konsisten dan komit untuk menindak tegas setiap pengmplang pajak.

The Real Power?

Mulai terbukti Aburizal Bakrie memiliki ‘power’ politik, yang tak tanggung-tanggung. Semuanya diperlihatkan dengan sangat jelas kepada publik. Betapa Ketua Umum Golkar ini, sejatinya ‘the real power’ di Indonesia.

Dengan sangat piawi Aburizal berhasil mengkosolidasikan partai-partai politik, melalui fraksi-fraksi mereka di DPR, yang kemudian mengambil keputusan opsi C dalam kasus bail aut Bank Century, dan dengan keputusan itu, Menkeu Sri Mulyani Indrawati terdepak dari jabatannya, yang sekarang digantikan Dirut Bank Mandiri, Agus Martowardoyo.

Kepergian Sri Mulyan Indrawati ke Washington, yang menjadi salah satu managing direktur dari Bank Dunia itu, tak lain, sebuah ‘strategic exit’, yang dispersiapkan dengan matang, yang akan menyelamatkan kekuasaan Presiden SBY. Semuanya berjalan dengan sangat lancar, tanpa kesulitan, dan sekarang Sri Mulyani sudah meninggalkan Indonesia, tanpa kasusnya yang melibatkan dirinya sebagai fihak yang bertanggung jawab tersentuh oleh hukum.

Berikutnya, tindakan politik yang sangat mengejutkan, terbentuknya Sekretariat Gabungan (Setgab), yang diketuai Presiden SBY, dan Aburizal Bakrie sebagai ketua pelaksana harian. Ini menunjukkan betapa posisi Aburizal sangat ‘powerfull’ selain Presiden.

Kebijakan dan keputusan politik yang diambil Presiden SBY, akhirnya menjadi sangat tergantung pada Aburizal, aplikatif atau tidak. Karena dia sebagai ketua pelaksana dalam Setgab. Maka, posisi Aburizal memiliki daya tawar (leverage) yang tinggi dalam politik.

Semuanya itu semakin nampak jelas dalam episode politik berikutnya, yang sebenarnya ini menjadi sebuah ‘big question’, terutama bagi pandangan rakyat, yang masih mengharapkan ditegakkan hukum dan keadilan. Tetapi hukum dan keadilan akhirnya pupus oleh adanya kekuasaan. Segalanya dapat  dinegosiasikan, dan akhirnya menjadi selesai.

Tidak salah yang mengatakan dengan terbentuknya Setgab itu, hanya melahirkan politik ‘kartel’, di mana dari hulu sampai ke hilir, keputusan politik dengan segala implikasinya hanya di tangan beberapa orang. Tentu yang paling mencolok, sesudah pengunduran Sri Mulyani, langsung kasus Bank Century, menjadi tidak ada lagi keinginan membawa ke ranah hukum.

Hal itu bersamaan dengan keputusan politik yang diambil partai-partai koalisi yang mendukung pemerintahan SBY, dan melalui Setgab sudah menandatangani pernyataan yang tidak akan melanjutkan kasus Century itu sampai ke ranah hukum. Artinya, kasus Bank Century sudah ditutup.

Padahal, sebelumnya mayoritas anggota DPR memilih opsi C, yang secara ekplisit menyebutkan adanya pelanggaran hukum, dan menyebutkan nama Sri Mulyani dan Boediono sebagai pihak yang bertanggung jawab. Tetapi, semuanya telah berakhir dengan tanda tangan para pemimpin partai politik,yang menolak kasus ke ranah hukum. Ini semuanya tidak terlepas dari peranan Aburizal Bakrie, yang melaksanakan kebijakan Presiden SBY.

Presiden SBY memiliki pilar kekuasaan yang kokoh dengan dukungan Aburizal Bakri, yang nota bene ketua umum Golkar dan Partai Demokrat serta PAN. Sedangkan partai-partai lainnya yang ikut mendukung sebagai faktor komplementer. Dapat diprediksikan dalam lima ke depan, sampai tahun 2014, pemerintahan ini akan menjadi stabil. Tetapi, tidak tertutup kemungkinan akan adanya perubahan sikap, seperti yang dialami hubungan antara Jusuf Kalla dengan SBY, diujung kekuasaan, sehingga menyebabkan sisa umur pemerintahan SBY tidak efektif.

Golkar dengan sangat ‘canggih’ selalu memiliki ‘exit strategic’ keluar dari krisis, dan kembali dapat mengambil dan menggenggam kekuasaan. Hanya sebentar mengalami krisis, saat Soeharto lengser, tetapi faktanya Golkar tidak sampai punah, dan kini berjaya kembali, sesudah dua kali dapat menggenggam kekuasaan di era SBY.

Saat Akbar Tanjung sudah tidak memiliki lagi pengaruh, maka Akbar ditendang di Kongres Bali, dan digantikan Jusuf Kalla, dan kepentingan Golkar dapat diselamatkan dengan adanya kekuasaan yang dipegang Jusuf Kalla, yang menjadi wakil presiden, sekaligus menjadi ketua umum Golkar.

Episode sejarah tergambar, bagaimana Jusuf Kalla tersingkir dari kekuasaan, tetapi faktanya kekuasaan yang ada tetap bergantung kepada Golkar, sekalipun Aburizal tidak duduk di ekskutif, tetapi sebagai ketua umum Golkar dengan suara yang besar di parlemen, SBY mempunyai kepentingan yang besar pula  kepada Golkar. Hal ini terbukti dengan digenggamnya jabatan sebagai Ketua Setgab oleh Aburizal Bakrie.

Terakhir, pendapat para pengamat yang mengatakan dengan adanya Setgab itu, melahirkan politik kartel itu tidak salah. Bagaimana Mahkamah Agung, menolak peninjauan kembali (PK) perkara yang diajukan Direktur Jendral Pajak atas kasus tunggakan pajak PT. KPC senilai Rp1,5 triliun, yang merupakan anak perusahaan dari PT.Bumi Resources, yang tak terlepas dari Aburizak Bakrie, dan kasus itu telah diputus Mahkamah Agung tanggal 24 Mei lalu.

sumber :http://rimanews.com/

~ oleh TOMMY UTAMA SH pada 11/04/2011.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: