Geopolitik Indonesia Dibahas di Aljazair

BORJ EL BAHRI – Geopolitik di Indonesia dibahas oleh Duta Besar Republik Indonesia untuk Aljazair di Borj El Bahri. Masalah ini dibahas di Ecole Superieure de Guerre, Markas Besar Angkatan Darat Aljazair (setingkat SESKO Bandung) yang diikuti oleh 200 Perwira Menengah Aljazair.

Direktur Sekolah, Jenderal Khourli Nouredine dan seluruh jajaran staf Akademik dan non-Akademik telah menyambut kedatangan Dubes RI dengan tatacara militer di halaman Sekolah.

Dalam briefing selamat datang pihak Sekolah telah menyampaikan penghargaan atas kesediaan Dubes RI menerima undangan mengisi kurikulum Geopolitik yang bagi Sekolah kedatangan Dubes RI tersebut merupakan peristiwa penting karena baru pertama kalinya Dubes RI memberikan ceramah tentang geopolitik Indonesia.

Ceramah umum berlangsung di salah satu gedung kuliah umum yang berbentuk amphitheater  dengan kapasitas 200 kursi tersebut penuh oleh para siswa sekolah dan staf akademik serta hadir pula direktur sekolah yang semuanya menyimak dengan penuh perhatian.

Dubes RI memulai ceramah dengan memaparkan tentang sejarah Indonesia yang kemerdekaannya diperoleh dari hasil perjuangan dan gerilya seperti yang dilakukan oleh bangsa Aljazair, demikian keterangan pers yang disampaikan kepada okezone, Selasa (1/3/2011).

Dalam masa perjuangan Aljazair pada kurun waktu 1956 hingga kemerdekaan Aljazir tahun 1962, TNI telah membantu para gerilyawan Aljazair, setidaknya dengan “ilmu bergerilya” dari buku klasik karya Jenderal AH Nasution yang menjadi buku bacaan wajib di berbagai SESKO di seluruh dunia.

Selain itu Indonesia juga memberikan dukungan diplomatik kepada perjuangan kemerdekaan Aljazair pada waktu Konferensi Asia Afrika Bandung 1955 dan Resolusi PBB tentang Dekolonisasi 1960 yang telah mengangkat isu kolonialisme di Aljazair ke pentas dunia.

Para peserta tampak serius mengikuti pemaparan yang mengembangkan peta geopolitik Indonesia  pasca Perang Dunia II, perang dingin, runtuhnya tembok Berlin yang diikuti oleh munculnya agenda demokrasi, HAM, korupsi hingga terorisme dan fanatisme agama, yang kesemuanya itu harus ditanggapi oleh Indonesia dengan cerdas, bijak, dan tepat, sesuai dengan kepentingan nasional Indonesia dan sejalan dengan politik luar negeri bebas aktif yang meletakkan ASEAN sebagai pilar utamanya.

Perhatian para peserta juga tercermin pada pertanyaan-pertanyaan yang diajukan setelah Dubes RI membuka sesi tanya jawab dengan ajakan untuk berdiskusi, seperti mengenai peran apa yang dapat dimainkan oleh Indonesia sebagai anggota ASEAN dan NAM dalam G-20 dan dalam berbagai forum multilateral lainnya untuk menciptakan keseimbangan regional dan internasional.

Selain juga bagaimana politik Pemerintah RI dalam menangani soal jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar; dan bagaimana strategi pemerintah dalam mengembangkan perekonomiannya sehingga dapat menghindari krisis keuangan global 2008 dan masuk menjadi anggota G-20.

Pada akhir ceramah, Dubes RI telah menyampaikan buku berjudul Indonesian Business Guide 2010 – 2011 yang dikeluarkan oleh PT. Independent Research & Advisory Indonesia (IRAI).

~ oleh TOMMY UTAMA SH pada 22/04/2011.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: