Kerusuhan di Puncak Jaya

BEGITUKAH memang seharusnya karakter dari kekuasaan itu? Ia menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya. Kalaupun harus mengorbankan jiwa masyarakat bukanlah masalah, sepanjang kekuasaan bisa didapatkan.

Kita sungguh sedih kalau kekuasaan dipandang dengan pendekatan seperti itu. Apalagi sampai melihat ada 20 orang tewas ketika elite politik berebut menjadi kepala daerah di Puncak Jaya, Papua. Mereka mengerahkan kekuatan massa untuk mengintimidasi kelompok lain guna membuka jalan menuju kekuasaan itu.

Almarhum Gus Dur pernah mengingatkan kita agar berhati-hati dalam menggunakan kekuasaan. Sebab, kekuasaan itu ibarat sebuah tambang. Ketika kita menggoyangkan tambang, maka gerakan di pangkal boleh hanya kecil saja, namun riak gelombangnya yang diakibatkan akan semakin membesar di bagian hilir.

Perseteruan pada tingkat pimpinan bisa jadi hanya dalam bentuk kata-kata saja. Namun di tingkat akar rumput bisa berubah jadi persoalan hidup dan mati. Orang bisa gelap mata untuk menunjukkan kesetiaannya dan ia bisa menghabisi nyawa orang lain demi pemimpinnya.

Setelah 13 tahun reformasi berjalan, seharusnya kita semakin dewasa dalam berdemokrasi. Namun kenyataannya justru demokrasi yang diperlihatkan semakin memprihatinkan. Kekuasaan menjadi tujuan yang diraih dengan menghalalkan segala cara.

Kita sebenarnya berharap pemimpin hadir untuk memberikan pencerahan kepada bangsa ini. Pemimpin hadir untuk mengajarkan bahwa kekuasaan bukanlah segala-galanya. Kekuasaan tidak boleh ditempuh dengan menghalalkan segala cara.

Namun sepanjang 13 tahun ini, kita tidak melihat pemimpin yang hadir untuk mengajarkan demokrasi secara benar. Para pemimpin asyik dengan dirinya sendiri, hanya peduli dengan kepentingannya sendiri untuk mendapatkan kekuasaan.

Bahkan yang lebih ironis, para pemimpin pada tingkat tertinggi pun terjebak kepada pendekatan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kekuasaan. Hanya gradasinya saja yang berbeda, tetapi esensinya sama yakni menjadikan kekuasaan itu sebagai tujuan.

Konflik karena perebutan kepala daerah bukan hanya terjadi di Puncak Jaya saja. Kejadian seperti itu banyak terjadi pula di daerah lain dan juga tidak sedikit yang menimbulkan korban jiwa.

Hanya saja semua itu tidak juga menggugah kesadaran kita untuk memperbaiki keadaan. Kita belum melihat langkah strategis yang sudah dilakukan untuk mencegah jangan sampai pemilihan kepala daerah berubah menjadi sebuah perang saudara.

Padahal esensi dari demokrasi itu adalah menyelesaikan perbedaan dengan cara yang lebih beradab. Demokrasi menjauhkan dari hal-hal yang bersifat kekerasan. Tidak ada kamus menggunakan kekerasan untuk menyelesaikan perbedaan di dalam sistem demokrasi.

Apa yang kita sedang kita lihat sekarang ini bukanlah demokrasi. Yang dipertontonkan adalah unjuk kekuatan. Mereka yang lebih kuatlah yang berhak untuk mendapatkan kekuasaan. Sebab, kalau pun mereka kalah, mereka akan menggunakan kekuatan untuk mendapatkan kekuasaan itu.

Kita tidak pernah akan bisa mencapai kemajuan apabila semua ini terus kita biarkan. Pujian terhadap demokrasi yang kita terapkan hanyalah racun, karena tidak  pernah akan memberikan kesejahteraan kepada kehidupan rakyat.

Kita harus berupaya keras untuk mengakhiri pameran kekerasan dalam perebutan kekuasaan. Mereka yang diberi kewenangan untuk menangani persoalan politik, hukum, dan keamanan harus turun untuk membenahi keadaan dengan mengajarkan bagaimana seharusnya demokrasi itu dibangun.

Tidaklah mungkin kita membangun demokrasi dengan cara seperti ini. Sekarang ini kita bukan sedang membangun demokrasi. Apa yang kita pertontonkan adalah democrazy, karena orang bisa membunuh satu dengan yang lain hanya demi kekuasaan.

Kita akan ditertawakan orang apabila terus membiarkan orang mati hanya karena berebut kekuasaan. Rasanya kita bukanlah negara yang ada di Afrika yang masih menggunakan cara-cara yang primitif untuk meraih kekuasaan.

Jangan biarkan rakyat hanya dijadikan alat untuk mendapatkan kekuasaan. Hukum harus tegas untuk menindak siapa pun yang menggunakan kekerasan dalam meraih kekuasaan, karena kita bertujuan untuk membangun sebuah bangsa yang beradab.

~ oleh TOMMY UTAMA SH pada 02/08/2011.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: