Secara de Facto Anas Sudah Tamat

Kasus suap Ses menpora dan nyayian bekas Bendahara Umum Partai Demokrat, M Nazaruddin telah membuat posisi ketua umum partai berlambang Bintang Mercy yakni Anas Urabningrum, tamat secara de facto. Bahkan Anas pun telah kehilangan integritas yang justru menjadi modal utama seorang politisi.
“Secara de facto nasib Anas tidak berbeda dengan Nazaruddin, tamat. Keduanya sama-sama tinggal menunggu keputusan de jure nya saja. Seorang politisi yang dijual itu adalah integritas di mana satu kata dengan perbuatan, janji dipenuhi. Anas sama sekali sudah kehilangan integritasnya dan ini sama artinya dengan tamat,” ujar Aktivis Koalisi Masyarakat Sipil Anti Korupsi, Fajrul Rahman dalam diskusi bertema Tuntaskan Kasus Suap Wisma Atlet di Gedung DPR RI, Jumat (29/7).
Anas yang dilahirkan dari generasi pergerakan 98 itu, menurutnya telah mencIderai cita-cita reformasi yang anti korupsi, kolusi dan nepotisme. “Dia mungkin ketika reformasi 98 belum apa-apa, tapi yang jelas reformasi itu dilakukan karena kemuakan masyarakat Indonesia terhadap praktek KKN. Dia yang lahir pasca era reformasi seharusnya tidak mengulang perbuatan seperti itu dan mencederai cita-cita reformasi,” tambahnya.
Selain itu, Anas seperti juga para pendukungnya selama ini juga sudah membohongi publik mengenai kondisi Nazaruddin pasca pelariannya, pernyataannya pun kerap berubah-ubah. “Anas jelas mengatakan sebelum Nazaruddin bernyanyi bahwa Nazaruddin sakit.

Namun ketika Nazaruddin bernyanyi dia katakan bahwa Nazaruddin itu kriminal dan pembohong. Sebenarnya yang pembohong itu Anas sendiri,” imbuh Fajrul lagi.
Dirinya pun mensinyalir bahwa tudingan Nazaruddin mengandung kebenaran. Ini tambahnya, bisa dilihat dari sikap KPK yang tidak juga mau menyelidiki nyanyian Nazaruddin itu sebagai bukti awal dilakukannya pemeriksaan. KPK yang telah mendapatkan kepercayaan publik telah menyalahgunakan kepercayaan tersebut dengan perilaku seperti itu.
“Kita ingat ketika kasus cicak buaya, bagaimana para facebooker sampai dengan 1,3 juta orang mendukung pimpinan KPK. Dukungan itu pun merosot ketika pimpinan KPK itu dipenjarakan pasca putusan kemenangan Anggodo menjadi 23 orang dan pasca kasus Nazaruddin bukan lagi dukungan yang didapat tapi caci maki. Persepsi publik sudah sedemikian terhadap Anas dan KPK. Orang-orang yang dituduh Nazaruddin tidak bisa melawan hal itu,” jelasnya.
Dengan kondisi ini, Fajrul pesimis bahwa kasus ini dapat dituntaskan oleh KPK karena selama ini juga belum pernah ada sejarahnya di republik ini kasus korupsi yang melibatkan kekuasaan dapat dituntaskan.
“Ini seperti menggantang asap saja mengharapkan agar kasus ini bisa diselesaikan oleh KPK. Kita hanya bisa berharap nanti pada pimpinan KPK mendatang yang akan dipilih pada bulan Desember mendatang. Orang yang terpilih nanti saya harap bukan hanya orang baik, karena orang baik saja belum cukup untuk memberantas korupsi, tapi benar-benar orang yang memiliki sifat benar-benar anti korupsi,” tegas nya lagi.

~ oleh TOMMY UTAMA SH pada 02/08/2011.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: