PSSI di rezim Djohar Arifin Husin dgn tokoh dibalik layar ARIFIN PANIGORO

MASIH lekat di ingatan kita tentang bagaimana Syahrini & Jambul Khatulistiwanya menjadi fenomena media akhir November lalu, terutama dlm kaitannya dgn kedatangan ikon sepak bola dunia David Beckham dgn klubnya LA Galaxy utk sebuah pertandingan persahabatan melawan Indonesian Selection. Dlm pertandingan di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) Jakarta terlihat jelas animo masyarakat Indonesia terhadap cabang olahraga ini cukup besar walaupun laga tsb berakhir dgn kekalahan tim Indonesia dgn skor 1-0.

 

Secara statistik, di negara yg menyumbang 4% populasi dunia ini, sepak bola memiliki superioritas di hati pecinta olahraga sehingga tak heran jika banyak atensi pemerintah dicurahkan ke lapangan hijau. Ironisnya, sepak bola yg seharusnya menjadi kebanggaan seluruh lapisan masyarakat ternyata gagal utk bersinar, bahkan di level Asia.

Lebih parah lagi, di tengah stagnasi prestasi Tim Garuda, PSSI kembali terbelit dgn repetisi pergolakan pada semester awal 2011. Setelah sempat memasuki masa-masa mencekam di bawah ultimatum FIFA yg berujung pada reformasi Solo awal Juli lalu, badai tak sedap kembali menerpa.

Beberapa waktu yg lalu, Komisi Disiplin (Komdis) PSSI dipimpin Bernhard Limbong dan Catur Agus Saptono mengeluarkan sederetan sanksi & larangan krusial menyangkut perseteruan dlm dualisme kompetisi persepakbolaan Indonesia.

Dlm putusan tsb, PSSI, di bawah komando Djohar Arifin Husein secara sepihak memandatkan pengelolaan kompetisi sah versi PSSI, Liga Prima Indonesia (LPI) & Divisi Utama, kpd PT LPIS pimpinan Widjajanto. Keputusan itu secara tak langsung menempatkan Indonesian Super League (ISL) & Divisi Utama versi PT LI pimpinan Herbiansyah Hanafiah & Syahriel Taher dlm status liga ’’bawah tangan’’.

Jika awalnya perseteruan hanya sekadar timbul tenggelam & berupa wacana di kalangan elite publik sepakbola dlm negeri, kini aroma perpecahan mulai merambat ke hampir semua aspek persepakbolaan nasional. Dualisme kompetisi di Indonesia mulai menelan korban di level klub. Menyusul keputusan PSSI, sanksi diberikan kpd 7 klub yg membelot atas keikutsertaan mereka di LPI pada zaman Nurdin Halid tsb.

Sanksi yg seharusnya berfungsi sebagai media utk mendisiplinkan oleh beberapa pihak dinilai sebagai intensi mematikan potensi klub, seperti dialami Persib Bandung. Setelah ’’membantu menyelamatkan’’ PSSI dari ancaman sanksi FIFA dgn melakoni laga pembuka IPL lalu, Maung Bandung dikenai Statuta PSSI Pasal 57 (1) & (2) jo. Pasal 32 dan 23.

Selain didiskualifikasi dari LPI musim ini, didegredasi musim depan, dituntut utk mengembalikan kontribusi LPIS, dilarang melakukan transfer pemain, Persib Bandung juga didenda Rp 1 miliar, lipat 2 denda bagi 7 klub lainnya.

Yg terjadi pada Persib semacam menjadi peringatan dini pada klub-klub mapan di Indonesia seperti Persija Jakarta & Arema Malang. Banyak klub papan atas mulai bergeming dan mengalami konflik internal yg terpaksa melibatkan mereka dlm perpecahan kongsi yg diakibatkan oleh PSSI demi memilih kompetisi yg dikehendaki oleh PSSI walaupun mengorbankan klub-klub sepakbola Indonesia.

Pergolakan di tubuh PSSI ini juga menggagalkan partisipasi Persipura mewakili Indonesia di kancah Liga Champions Asia (LCA) krn manuver PSSI yg mencoba menggantikan posisi Persipura dgn klub Persija aspal dari AFC tsb.

*** MANUVER POLITIK & BISNIS DARI PSSI ***

Keputusan Komdis PSSI juga berimbas pada tataran individu atau kepengurusan dlm struktur klub yg ada. PSSI mendenda & melarang komisaris & direktur PT LI utk berkiprah di dunia sepak bola 3 tahun ke depan, melarang pemain & pelatih yg berkiprah di kompetisi nonresmi utk mengisi jajaran timnas dgn dalih Statuta FIFA Pasal 79, serta bersiap pula utk menginvestigasi ofisial pertandingan yg terlibat di ISL.

Rangkaian konsekuensi tsb PSSI telah menghadirkan ancaman serius terhadap kelangsungan timnas di level senior ataupun junior karena sekitar 80% punggawanya berlaga di kompetisi PT LI yg akan berujung hancurnya sepakbola Indonesia tsb.

Rahmad Darmawan (RD) selaku mantan Head Coach Timnas U-23 pernah mempertanyakan pelarangan bergabungnya pemain yg berkompetisi di ISL. Disampaikan lebih lanjut oleh RD, pemain tdk pantas dipersalahkan krn afiliasi mereka dgn klub tertentu adalah bentuk profesionalisme.

Dgn mundurnya RD dari jabatannya di timnas, publik mulai bertanya-tanya siapa yg akan menyuarakan aspirasi masyarakat ke PSSI yg terkesan teguh & arogan dgn  pendiriannya. Jika memang demikian, mungkin sekarang saatnya PSSI direvolusi kembali di negeri ini yg terkesan aneh krn semakin terlihat jelas makin seperti manuver politik dan bisnis tanpa mempedulikan pencapaian utama sepakbola Indonesia secara keseluruhan yakni prestasi Tim Nasional Indonesia di  kancah International.

LPI yg disponsori Arifin Panigoro, yg pernah diharamkan pada era Nurdin, justru menjadi acuan utama saat ini, terlepas dari absennya klub-klub elite yg justru berlaga di ‘’kompetisi sebelah’’, ini juga membuktikan POLITIK BALAS DENDAM yg dilancarkan oleh PSSI pimpinan DJohar yg dikendalikan oleh Arifin Panigoro tsb.

Pro dan kontra pun mulai bermunculan. Selain perang spanduk dukungan kompetisi oleh suporter yg tersorot dalam tayangan live pertandingan & pernyataan sikap Indonesia Football Watch, Pengprov PSSI Jatim juga tengah ancang-ancang menyelenggarakan KLB (lagi!).

Parahnya, isu ini naik ke permukaan di pengujung 2011 dan pascaeuforia Tim Garuda Muda di SEA Games XXVI; yg walaupun gagal di final tetap membanggakan KITA. Berkaca pada akhir masa kepemimpinan Nurdin, ada kemungkinan besar reformasi di tubuh PSSI bakal terulang karena ternyata kepengurusan PSSI yg seharunya sebagai representatif masyarakat di tingkat nasional gagal menyuarakan pikiran dan harapan rakyat.

Inikah potret persepakbolaan kita, yg miskin pencapaian tapi kaya oleh intrik? Ekspektasi publik utk melihat Merah Putih berkibar di ajang sepak bola internasional kelihatannya masih cukup jauh dari asa. Bukankah sepak bola adalah bentuk seni dan olahraga untuk dinikmati? Janganlah tokoh -tokoh masyarakat hanya mementingkan politik / bisnis kelompoknya saja tapi ikut berperan dalam menghancurkan sepakbola Indonesia seperti yg telah dilakukan pada rezim Nurdin  Halid dan disambung ke rezim Djohar Arifin Husin yg lebih frontal walaupun baru berumur kurang dari setahun ini dlm menghancurkan sepakbola Indonesia ini.

~ oleh TOMMY UTAMA SH pada 11/03/2012.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: