Demo, Makassar Koq Sering Rusuh….????

97939_bentrokan-di-kampus-unm-makassar_663_382Kamis, 25 Maret lalu, beberapa public relation (PR) dari berbagai institusi menghadiri seminar kehumasan yang digagas oleh Perhimpunan Jurnalis Indonesia (PJI) Sulsel di Madrid Assembly Hall Pantai Akkarena, Makassar. Dua pembicara, masing-masing akademisi dan dosen Universitas Fajar (Unifa), Dr. Muh. Akbar dan wartawan Kompas Nasrullah Nara menyajikan materi yang cukup menarik. Yakni kiat-kiat seorang PR menghadapi wartawan serta menyikapi pemberitaan yang tidak akurat dan berimbang.

Namun, tak kalah menariknya adalah dialog terbatas usai seminar. Kepala Penerangan Kodam (Kapendam) VII Wirabuana Mayor Rustam Effendi, Media Relation PT Inco Iskandar Siregar, Corporate Communications Telkomsel Area Pamasuka Jowvy Kumala, Public Relation Mall GTC Tanjung Bunga A. Widya Syadzwina, dan Sultan Makkawaru terlibat pembicaraan serius dalam satu meja bundar. Demo mahasiswa Makassar yang sering berujung rusuh menjadi akar pembicaraan tersebut.

Menurut Rustam, suatu ketika terjadi penggantian Pangdam, pejabat yang ditugaskan di Makassar sempat diledekin teman-temannya. “Rasain, ditempatkan di Makassar,” ujar Kapendam VII Wirabuana ini menirukan perkatan rekannya. Namun, setelah menginjakkan kaki di Makassar, ternyata Pangdam kaget dengan kondisi Makassar yang relatif aman.

Lain halnya dengan Jowvy Kumala. Ketika mengajak salah seorang rekannya asal Jakarta untuk berjalan-jalan ke daerah Panakukkang, sang teman tadi kaget dengan kenyataan yang ada. “Oh, ternyata di Panakukkang banyak mal dan bangunan modern. Kiranya daerah kumuh dan rawan kriminal,” ujar teman Jowvy. Alasannya, sang teman tadi banyak melihat pemberitaan media elektronik mengenai beberapa persitiwa kriminal yang terjadi di kawasan Panakukkang.

“Nah, sekarang bagaimana kita bisa meredam image negatif Makassar bagi masyarakat luar. Saya kira, ini juga menjadi kerugian bagi mahasiswa asal Makassar sendiri yang mau melanjutkan karir di Pulau Jawa. Kebanyakan, mereka ditanya apakah tidak sering terlibat demo rusuh, yang ujung-ujungnya penolakan dari perusahaan tertentu,” imbuh Iskandar Siregar.

Sehingga, kata dia, perlu ada upaya yang nyata dari berbagai pihak untuk mengembalikan citra Kota Makassar. “Saya rasa, kita perlu mengundang teman-teman mahasiswa dan wartawan elektronik untuk mendiskusikan ini. Sebab, ini menyangkut nama kota kita,” tandas Iskandar.

Penyebab Rusuh

Sementara itu, dalam tulisan Yusran Darmawan yang dipublikasikan pada situs internet, dia melihat ada beberapa argumentasi dari berbagai kalangan mengapa demo mahasiswa di Makassar kerap berujung rusuh.

Pertama, mahasiswa Makassar mempunyai pemahaman politik yang bagus. Pendidikan politik cukup efektif di kota ini sehingga mahasiswa mempunyai kesadaran yang tinggi dalam menyikapi fenomena politik. Dalam setiap peristiwa politik, mahasiswa selalu menyikapinya dengan demonstrasi atau nekad ke Jakarta untuk menemui politisi. Kalaupun demo rusuh dan selalu memacetkan jalan, itu disebabkan karena kemiskinan metodologi. Mereka tidak memperkaya dirinya dengan metodologi aksi yang baik, sehingga selalu mengulang-ulang apa yang dilakukan seniornya. Kalau bukan tutup jalan, pasti rusuh.

Kedua, lanjut Yusran dalam tulisannya, demonstrasi mahasiswa Makassar terlampau sering ditunggangi para politisi. Makassar sering jadi tempat pengalihan isu politik. Mungkin argumentasi ini menempatkan mahasiswa sebagai subordinat dari para politisi. Tapi, apa boleh buat, sebab boleh jadi inilah kenyataannya. Selain itu, pada beberapa demo yang berakhir rusuh, selalu bersamaan waktunya dengan peristiwa politik yang cukup besar, apakah itu pemilu, pilkada, atau momen politik penting.

Beberapa tahun lalu, polisi sempat menyerbu kampus UMI dan berujung pada pencopotan Kapolda Sulsel Irjen Yusuf Manggabarani. Semua orang mengaitkan peristiwa itu dengan situasi politik Jakarta yang memanas. Demikian pula saat konflik Ambon. Tiba-tiba Makassar ikut rusuh. Teranyar, demo terkait kasus Century yang juga berujung rusuh.

Ketiga, fenomena demonstrasi itu bisa ditafsir sebagai tebalnya tembok kekuasaan sehingga aspirasi mahasiswa tidak bisa tersalurkan. Kata seorang kawan, tulis Yusran, kita harus ribut dulu biar didengar. Kalau demo dilakukan dengan santun, jangan harap akan didengarkan. Meskipun kita punya mekanisme perwakilan seperti DPR, namun tidak berarti aspirasi rakyat akan didengarkan dengan cepat. Buktinya, ada begitu banyak aspirasi yang mengalir begitu saja, tanpa didengarkan. Nah, demo rusuh bisa dilihat sebagai siasat mereka untuk didengarkan. Meskipun demo ini dampaknya sangat disayangkan sebab merugikan banyak pihak, termasuk mahasiswa sendiri.

Keempat, secara kultural, orang-orang di Makassar memang gampang ‘panas’. Di Makassar, saling melirik saja bisa menjadi awal perselisihan yang kemudian berakhir pada saling tikam. Orang Makassar menjunjung tinggi apa yang disebut siri’ (harga diri). Ia boleh saja tidak punya apapun, namun ia mesti menjaga siri’.

Sebenarnya, banyak budayawan Bugis-Makassar yang mempertanyakan tafsir siri’ yang menurut mereka salah kaprah itu. “Siri’ bukan untuk kriminalitas. Siri’ itu harus diarahkan kepada hal yang positif. Misalnya sikap untuk menolak suap atau menolak korupsi,” kata Prof Nurhayati Rahman, budayawan Sulsel, dalam banyak kesempatan. Sayangnya, tidak semua berpikir seideal para budayawan.

Kelima, boleh jadi para mahasiswa itu berharap bisa diliput oleh media massa secara luas. Menurut Yusran, ia sering mendengar cerita para mahasiswa yang menunda demonstrasi hanya gara-gara para jurnalis belum tiba. Sementara bagi para jurnalis, aksi anarkis adalah lahan berita yang paling cepat tayang. Di sini terjadi simbiosis mutualisme antara media dan mahasiswa itu. Para mahasiswa itu memahami watak para pengelola media yang memegang kalimat sakti “Bad news is good news.” Mereka menyajikan good news demi berita yang segera tayang di semua televisi.

Keenam, demonstrasi besar adalah panggung bagi para aktivis untuk tampil. Ini sama dengan kalimat yang dipopulerkan Tukul yakni “Masuk TV.” Para mahasiswa itu ibarat seorang peragawati yang melintas di atas catwalk. Dalam tulisannya tersebut, Yusran mengemukakan pernah mendengar cerita tentang seorang aktivis yang ikut demo, kemudian dipukuli. Media lalu meliput. Beberapa jam berikutnya, sang aktivis itu lalu mengirim pesan singkat/SMS pada semua keluarganya di kampung. “Tolong liat TV. Ada berita saya dipukuli. Hebat khan?”

Sering pula, tulis Yusran, dia mendengar kisah tentang seorang aktivis yang tiba-tiba terkenal karena memimpin demo dan sempat diwawancarai televisi. Ia jadi terkenal. Politisi dan calon kepala daerah berebut untuk memasukkannya jadi tim sukses. Ia terkenal karena melewati jalan pintas yakni memimpin massa yang anarkis. Meskipun caranya merugikan banyak orang, tapi sang aktivis itu menuai popularitas.
sumber : http://politik.kompasiana.com/2010/04/19/demo-mahasiswa-makassar-koq-sering-rusuh-122101.html

~ oleh TOMMY UTAMA SH pada 08/09/2014.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: